Analisis Faktor Kepatuhan Minum Obat Antituberkulosis Pasien Rawat Jalan Pada Layanan Kesehatan Primer
Studi Cross-sectional Di Puskesmas Ngasem Kabupaten Kediri
DOI:
https://doi.org/10.46772/jophus.v8i1.1953Keywords:
tuberkulosis, kepatuhan minum obat, obat anti tuberkulosisAbstract
Pengobatan TB melibatkan banyak obat dan durasi terapi yang panjang. Keberhasilan pengobatan sangat dipengaruhi oleh kepatuhan pasien dalam mengonsumsi Obat Anti Tuberkulosis secara teratur. Penelitian ini bertujuan mengetahui tingkat kepatuhan minum Obat Anti Tuberkulosis serta menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhinya pada penderita tuberkulosis di Puskesmas Ngasem Kabupaten Kediri. Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan metode survei analitik dan pendekatan prospektif pada Februari–April 2026. Sampel penelitian berjumlah 40 pasien yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Tingkat kepatuhan diukur menggunakan metode pill count, sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan diidentifikasi melalui kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data menggunakan uji Fisher’s Exact Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 92,5% responden termasuk kategori patuh. Pengetahuan, sikap, efek samping obat, dukungan tenaga kesehatan, dan dukungan keluarga berhubungan signifikan dengan kepatuhan minum obat, sedangkan akses fasilitas kesehatan tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Disimpulkan bahwa peningkatan edukasi, konseling, dan dukungan keluarga serta tenaga kesehatan perlu dipertahankan untuk meningkatkan keberhasilan pengobatan tuberkulosis.
References
[1] European Centre for Disease Prevention and World Health Organization, Tuberculosis surveillance and monitoring in Europe. 2026. doi: 10.2900/7075743.
[2] WHO, “WHO consolidated guidelines on tuberculosis. Module 4: treatment and care,” 2025.
[3] D. Avisa, B. Widyadhana, C. Khuliyah, and A. S. Pawitra, “Gambaran Epidemiologi Penyakit Tuberkulosis Di Wilayah Kerja,” J. Kesehat. Tambusai, vol. 6, no. 1, 2025.
[4] WHO, Guidelines for treatment of drug-susceptible tuberculosis and patient care. 2017.
[5] N. Yasin, D. Wahyono, B. Riyanto, and I. P. Sari, “Peningkatan Peran Apoteker dan Outcome Pasien Tuberkulosis Melalui Uji Coba Model Training-Education-Monitoring-Adherence-Networking (TEMAN) Apoteker,” J. Farm. Klin. Indones., vol. 6, no. 4, pp. 247–266, 2017, doi: 10.15416/ijcp.2017.6.4.247.
[6] Kemenkes RI, KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA TENTANG PEDOMAN NASIONAL PELAYANAN KEDOKTERAN TATA LAKSANA TUBERKULOSIS. p. 37.
[7] Irwan, Etika dan perilaku kesehatan Yogyakarta: CV. Absolute Media, 2017. 2017.
[8] N. Nabila, “Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan Minum Obat Anti Tuberkulosis (OAT) pada Penderita Tuberkulosis Paru (TB) : Literature Review,” Media Publ. Promosi Kesehat. Indones., vol. 6, no. 8, pp. 1478–1484, 2023, doi: https://doi.org/10.56338/mppki.v6i8.3484.
[9] U. M. Ileye, V. O. Odero, M. S. Hassan, and M. Hossain, “Determinants of tuberculosis treatment adherence among patients taking anti-TB drugs in Borama , Somaliland.,” BMC Public Health, vol. 25, no. 1, 2025, doi: https://doi.org/10.1186/s12889-025-25151-4.
[10] P. Caraux-Paz, S. Diamantis, B. de Wazières, and S. Gallien, “Tuberculosis in the Elderly,” J. Clin. Med., vol. 10, no. 24, p. 5888, 2021, doi: https://doi.org/10.3390/jcm10245888.
[11] K. C. Farmer, “Methods for measuring and monitoring medication regimen adherence in clinical trials and clinical practice,” Clin Ther, vol. 21, pp. 1074–1090, 1999, doi: doi: 10.1016/S0149-2918(99)80026-5.
[12] I. J. H. Tukayo, S. Hardyanti, and M. S. Madeso, “Faktor yang mempengaruhi kepatuhan minum obat anti tuberkulosis pada pasien tuberkulosis paru di Puskesmas Waena,” J. Keperawatan Trop. Papua, vol. 3, no. 1, pp. 145–150, 2020.
[13] A. E. Noveyani and S. Martini, “EVALUASI PROGRAM PENGENDALIAN TUBERKULOSIS PARU DENGAN STRATEGI DOTS DI PUSKESMAS TANAH KALIKEDINDING SURABAYA,” J. Berk. Epidemiol., vol. 2, no. 2, pp. 251–262, 2014.
[14] A. Putriana, D. Frianto, and M. Arfania, “Analisis Kepatuhan Minum Obat Tuberkulosis di Puskesmas Cikampek Utara Periode Febuari-Mei Tahun 2024,” J. Bid. Ilmu Kesehat., vol. 14, no. 4, pp. 373–380, 2024.
[15] F. L. Saragih and H. Sirait, “Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Dengan Kepatuhan Minum Obat Anti Tuberkulosis Pada Pasien Tb Paru Di Puskesmas Teladan Medan Tahun 2019,” vol. 5, no. 1, pp. 9–15, 2020.
[16] T. A. Fortuna, H. Rachmawati, D. Hasmono, and H. Karuniawati, “Studi Penggunaan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) Tahap Lanjutan pada Pasien Baru BTA Positif,” Pharmacon, vol. 19, no. 1, 2022.
[17] Y. Arliny, M. F. Muarif, W. Mahdani, and B. H. Yanifitri, “Anti-TB Drug Side-Effects on the Treatment of Drug-Resistant Tuberculosis (DR-TB) in dr. Zainoel Abidin Hospital Banda Aceh,” J. Respirologi Indones., vol. 45, no. 1, pp. 21–29, 2025, doi: https://doi.org/10.36497/jri.45i1.507.
[18] S. N. Hasina, A. Rahmawati, R. Y. Faizah, Sari, and R. Rohmawati, “Hubungan tingkat pengetahuan dengan kepatuhan minum obat anti tuberkulosis (OAT) pada pasien tuberkulosis paru,” J. Ilm. Permas, vol. 13, no. 2, pp. 453–462, 2023.
[19] Y. C. Ratu, A. Yudowaluyo, and B. A. Wao, “Pengaruh Sikap Dan Dukungan Keluarga Pasien Tuberkulosis Paru Terhadap Kepatuhan Minum Obat Anti Tuberkulosis Di Puskesmas Tarus Kabupaten Kupang,” CHMK Health J., vol. 5, no. 2, 2021.
[20] CDC, “Curry International Tuberculosis Center. Making the Connection: An Introduction to Interpretation Skills for TB Control, 2nd edition; 2008.,” Atlanta, Georgia, 2008. [Online]. Available: www.currytbcenter.ucsf.edu/products/view/ making-connection-introduction-interpretation-skills-tb-control- 2nd-edition.

